Label

Tampilkan postingan dengan label Aku dan Kelenjar Tiroid-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Kelenjar Tiroid-ku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2016

SETELAH EMPAT TAHUN BERLALU

Menjalani Whole Body Scanning

4 tahun yang lalu atau tahun 2012 aku menjalani total thyroidectomy dilanjutkan dengan ablasi radioaktif untuk menghabiskan dan menghancurkan sel-sel cancer thyroid yang masih bersemayam di tubuhku.
Setahun setelah total thyroidectomy atau 6 bulan pasca ablasi, aku menjalani whole body scan (WBS) untuk melihat apakah masih ada sisa-sisa sel cancer di tubuhku, dan alhamdulillah hasil WBS saat itu menunjukkan bahwa tubuhku sudah bersih dari sel-sel cancer.
Seharusnya WBS dilakukan rutin minimal setahun sekali untuk mendeteksi secara dini jika ada sisa sel cancer thyroid atau jika sudah metastase ke organ tubuh lain, sehingga bisa ditangani sejak dini juga.
Namun karena sesuatu dan lain hal, antara lain kepindahan pekerjaanku kembali ke unit, juga karena aku merasa baik-baik saja, maka akhirnya selama 3 tahun aku tidak melakukan WBS. Selain itu ada juga rasa malas melakukan WBS karena harus berpuasa  levotiroksin untuk persiapan WBS selama kurang lebih 3 minggu.
Pengalaman sebelumnya saat akan menjalani ablasi dan WBS sehingga harus berpuasa levotiroksin selama 3 - 5 minggu, kondisi tubuhku rasanya seperti nano-nano.....berjuta rasanya. Kondisi tubuh jadi gak karuan, lemas sampai seperti tak bertulang, ngantuk sepanjang hari, berat badan naik, emosi gak stabil, seperti masuk angin terus menerus, kalau kecapekan maka setelahnya badan seperti habis digebuki......padahal aku harus tetap bekerja.....bisa dibayangkan bagaimana beratnya.
Selain itu juga harus menghindari seafood, mengurangi garam beryodium, gak boleh pakai obat gosok/balsem, gak boleh makan obat yang mengandung mint/mentol, gak boleh minum jamu-jamuan dan ada beberapa pantangan lagi.
Kalau badan masuk angin kan paling enak digosok pakai balsem atau minum jamu tolak angin....nah itu termasuk yang gak boleh....jadi bayangin aja, badan sakit-sakit semua karena masuk angin tapi dibiarin aja.....gak dikasih obat gosok, gak minum tolak angin.....berjuta rasanya kan.....
Kenapa kondisi tubuh bisa sampai seperti itu? Ya karena tanpa levotiroksin (hormon tiroid sintetis) maka metabolisme tubuh terganggu.....jadi hampir semua sel tubuh juga ikut terganggu.... begitulah....betapa pentingnya hormon tiroid......
Tapi setelah 3 tahun tanpa menjalani WBS, akhirnya aku berpikir dan ketakutan sendiri, bagaimana kalau ternyata sel-sel cancer tiroid di tubuhku tumbuh lagi dan bermetastase ke organ lain seperti yang dialami beberapa temanku? Kalau sampai tumbuh lagi atau metastase ke organ lain maka harus ablasi lagi.....membayangkan ablasi lagi membuatku sedih.....membayangkan diisolasi selama beberapa hari....duuhh.....

Akhirnya saat cuti di bulan Mei yang lalu, aku mampir ke Kedokteran Nuklir RSPP, minta dijadwalkan WBS. Aku dibuatkan jadwal sebagai berikut : mulai tgl 23 Juli puasa levotiroksin, 10 Ags ambil darah untuk cek TSHs, Tg dan anti Tg serta ditetes iodine I-131, kemudian tgl 11 Ags dilakukan WBS.
Kenapa dari Mei baru mulai puasa levotiroksin di bulan Juli? Karena bulan Juni – Juli kan Ramadhan kemudian Lebaran dan aku gak mau puasa levotiroksin di bulan Ramadhan, takut gak kuat.
Selanjutnya tgl 23 Juli mulailah aku puasa levotiroksin. Saat puasa, kadang tubuhku seharian strong, aku bisa beraktivitas seperti biasa tanpa kendala lemas atau pusing atau apalah. Tapi kadang seharian badanku lemas, terasa kedinginan sampai gemetaran. Pernah juga saat itu ada training seharian diselingi izin ke luar untuk melayat, malamnya badanku sakit dan pegal-pegal seperti habis digebuki. Masuk minggu ketiga puasa levotiroksin badanku rasanya masuk angin terus menerus, duuhh....rasanya .....cuma sesama survivor cancer tiroid yang mengerti.....
Tapi bagaimanapun juga, aku gak menyerah dengan kondisi tubuh yang up and down seperti itu.....aku bisa menyelesaikan puasa levotiroksinku.
Dan akhirnya tgl 10 Ags 2016 darahku diambil untuk cek TSHs, Tg dan anti Tg serta ditetes Iodine 131 sebagai cairan kontras untuk pemeriksaan WBS besoknya.
Keesokan harinya tgl 11 Ags 2016 dilakukan WBS. Selama proses scanning ......dalam keadaan diam gak boleh bergerak selama kurang lebih 45 menit, aku gak henti berzikir dan berdoa mengharapkan hasil terbaik. Aku pasrahkan semua kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena hanya dari kasih sayang Allah semata lah kita bisa sehat dan sembuh, kita manusia hanya bisa berikhtiar semaksimal mungkin.
Setelah menunggu hasilnya selama satu jam, dengan perasaan harap-harap cemas,  aku dipanggil dan diberikan hasil cek darah dan WBS. Alhamdulillah ya Allah, Engkau Maha Baik, hasil cek darah dan WBS ku baik semua, artinya tidak ditemukan sel-sel cancer tirod di tubuhku..... alhamdulillah..... alhamdulillah.....plong rasanya.....
Hasil lengkapnya sebagai berikut :
Hasil cek darah : tiroglobulin RIA 3.25 ng/mL dan anti-tiroglobulin 3.13 IU/mL.
Hasil WBS : tidak tampak sisa jaringan tiroid fungsional di lapang tiroid dan organ non-fisiologis lain.
Disertai saran untuk pemeriksaan berikutnya :
cek lab kadar TSHs pada 5 Sep 2016
cek lab Tg, anti-tiroglobulin antibodi pada 6 Feb 2017 tanpa puasa levotiroksin
cek lab kadar Tg, ATA dan pencitraan whole body pada 9 Ags 2017 dengan puasa levotiroksin mulai 24 Juli 2017.
Terima kasih Dr Ryna dan staf Kedokteran Nuklir RSPP yang telah melakukan pemeriksaan dan memberikan saran-saran untukku.


saat discanning

saat discanning

hasil cek darah dan WBS

Bagaimana Hasilnya Bisa Baik?
Ada beberapa teman sesama pejuang tiroid yang menanyakan apa kiatnya supaya hasilnya bisa baik terus dengan hanya sekali ablasi dan 3 tahun gak wbs? Terutama adalah bagaimana pola makanku, apakah ada pantangan tertentu? Karena selama ini banyak sekali yang bilang gak boleh makan ini atau itu, sampai-sampai takut makan makanan tertentu padahal itu cuma mitos yang belum diketahui bagaimana kebenarannya.
Kalau aku hanya menuruti apa kata dokter. Dokter onkologi bilang gak ada pantangan makanan apa-apa, pesannya hanya jangan berlebihan aja. Dokter nuklir bilang kurangi seafood, coklat, brokoli, kembang kol, daun singkong dan garam beryodium, pokoknya makanan yang mengandung yodium tinggi karena makanan cancer tiroid adalah yodium, beda dengan cancer-cancer yang lain. Yang perlu diperbanyak dan harus ada setiap hari adalah buah dan sayur segar.
Jadi aku hanya mengurangi makanan yang disebutkan tadi.....ingat ya....mengurangi....bukan tidak sama sekali. Jadi aku  tetap makan seafood atau coklat sekali-sekali..... namanya orang palembang mana bisa gak makan seafood (baca pempek....karena pempek kan pakai ikan dan biasanya pakai ikan laut seperti tenggiri, dll). Toh gak tiap hari juga makan pempek, ikan laut, cumi, udang atau kepiting.....hanya sekali-sekali dan gak banyak juga yang dimakan.
Untuk memasak juga masih pakai garam beryodium tapi kadarnya dikurangi.  Selain itu juga mengurangi makanan berpengawet, makanan kalengan, fastfood, msg,  minuman bersoda, tapi makanan-makanan ini sebenernya bukan perlu dihindari oleh penderita gangguan tiroid saja tapi orang yang sehatpun sebaiknya menjauhi makanan-makanan yang tidak sehat ini.
Bagaimanapun juga tubuh kita perlu nutrisi berupa karbohidrat, protein nabati & hewani, serat, lemak, vitamin, mineral, dalam proporsi yang seimbang. Meniadakan salah satu komponen tadi akan membuat nutrisi kita gak seimbang dan boleh jadi akan menyebabkan masalah kesehatan lain.
Jadi apa batasannya? Ya ikuti sunnah saja.....berhenti makan sebelum kenyang alias makan secukupnya, tidak berlebihan, apapun jenis makanannya dan yang paling penting adalah makanan tersebut harus halal dan terjaga kebersihannya.
Apakah aku makan herbal-herbal tertentu atau menjalani terapi alternatif lain seperti yang banyak diiklankan dan disarankan oleh teman-temanku, yang katanya bisa mengobati kanker, yang katanya kalau makan herbal tertentu atau ikut terapi alternatif tertentu gak perlu lagi makan levotiroksin? No.....aku termasuk orang yang gak percaya dengan pengobatan herbal atau alternatif, untuk pengobatan aku lebih memilih secara medis. Sudah banyak bukti bahwa orang yang menolak pengobatan medis dan memilih herbal atau terapi alternatif dan menghentikan pengobatan secara medis ternyata bukan makin baik dan sembuh namun tingkat/stadium kanker nya makin parah dan ketika memilih kembali ke pengobatan medis ternyata sudah terlambat.
Hal lain yang aku jaga adalah istirahat cukup, jangan terlalu capek beraktivitas, jangan tidur kemalaman, karena tubuh punya hak untuk istirahat.
Tapi semuanya kembali pada pribadi masing-masing, semua punya pilihan masing-masing. Aku yakin yang Maha Menyembuhkan itu hanya Allah semata dan aku memilih menjalankan ikhtiar untuk kesembuhan secara medis diiringi doa yang gak putus agar ikhtiarku diredhoi oleh Allah swt.
Mudah-mudahan jalan yang aku pilih ini bisa membuatku tetap sehat dan mudah-mudahan pemeriksaanku tahun depan dan tahun seterusnya hasilnya selalu baik seperti yang diharapkan.....aamiin ya robbal alamin....


Minggu, 05 Juni 2016

CATATAN DARI SEMINAR TATALAKSANA KEGANASAN TIROID

Akhir Mei yang lalu, tepat 4 tahun aku menjadi tuna tiroid, tapi aku baru tau bahwa tgl 25 Mei adalah Hari Tiroid Sedunia. Untuk menyambut hari tersebut maka tanggal 28 Mei 2016 RSPP mengadakan Seminar Tatalaksana Keganasan Tiroid dengan narasumber Prof. Dr. dr. Johan S Masjhur, SpPD, KEMD, SpKN dan dr. Alban Dien, SpB (K) Onk dan moderator dr. Alvita Dewi, SpKN, Mkes.
Prof Johan adalah Bapak Kedokteran Nuklir Indonesia dan praktek antara lain di RS Hasan Sadikin Bandung, sedangkan dr Alban Dien praktek antara lain di RSPP. Jadi beliau berdua adalah pakar di bidangnya masing-masing.
Seminarnya menarik, materi disampaikan dengan baik oleh para pakar dengan bahasa yang dipahami oleh awam seperti aku. Moderator dan MC nya juga asyik, bisa membawa suasana seminar menjadi cair namun tetap serius.

Beberapa hal yang sempat aku catat dari seminar tersebut adalah :

1.   Kanker tiroid adalah kanker yang mudah disembuhkan dengan catatan jika ditangani dan diterapi secara cepat dan tepat. Oleh karena itu kanker tiroid disebut sebagai benign carsinoma atau ganas yang jinak. Menurutku ini point yang paling penting.

2.   Di sekitar kelenjar tiroid itu terdapat pembuluh2 darah, syaraf2, dan 4 kelenjar paratiroid. Sebelum dilakukan tindakan operasi pengangkatan kelenjar tiroid, biasanya dilakukan preservasi dulu terhadap pembuluh2 darah dan syaraf2 yang ada di sekitar kelenjar tiroid agar tidak terjadi pendarahan hebat pada saat dan pasca operasi. Itulah sebabnya pasien pasca operasi tiroid perlu dirawat di ruang ICU paling tidak selama 24 jam supaya kondisi si pasien terpantau dengan ketat, terutama karena adanya kemungkinan pendarahan hebat pasca operasi.

3.   Tiga kelainan utama kelenjar tiroid adalah : hypofunction, hyperfunction dan enlargement/goiter (diffuse enlargement, nodular enlargement).

4.   Kanker tiroid merupakan keganasan kelenjar yang paling banyak ditemukan dan membutuhkan pembedahan serta termasuk dalam top 10 kanker ganas. Beberapa jenis bahkan keganasannya agresif dan berpotensi menjadi fatal.

5.   Beberapa jenis kanker tiroid adalah : papillary (paling banyak ditemukan, berdiferensiasi baik, pertumbuhannya lambat), follicular (berdiferensiasi baik, kedua yang paling banyak ditemukan, lebih agresif), mixed papillary-follicular, hurthle cell tumor (berdiferensiasi menengah), medullary (agresif, tidak dapat menyerap I-131), anaplastic (yang paling agresif, 30% merupakan perkembangan dari cancer yang berdiferensiasi baik, treatmentnya dengan chemo atau radiasi).

6.   Indikasi yang menyebabkan dilakukannya pembedahan tiroid adalah : pembesaran kelenjar tiroid (goiter), beberapa jenis hyperthyroidism, thyroid nodules/cancer, karena alasan kosmetik.

7.   Jika sudah tuna tiroid tetap boleh/bisa hamil, obat pengganti hormon tiroid (levotiroksin) yang diminum secara rutin oleh tuna tiroid tidak mengganggu janin.

8.   Thyroidectomy endoscopy dilakukan hanya untuk mengambil nodul/benjolan kecil pada kelenjar tiroid, tidak dapat digunakan untuk mengangkat kelenjar tiroid yang terindikasi kanker.

9.   Tatalaksana terintegrasi untuk karsinoma tiroid adalah surgery (thyroidectomy), radioactive iodine therapy (remnant ablation) dan hormonal supression therapy (pemberian hormon tiroksin/levotiroksin untuk menekan TSH) atau disebut the triad of initial therapy.

10.  85 % karsinoma tiroid sembuh dengan bedah, ablasi dan supresi TSH. 10-20 % kambuh dalam 5-15 tahun setelah terapi primer.

11. Terapi dengan iodine radioaktif diberikan untuk indikasi : graves disease, toxic  multinodular goiter, solitary hyperfunctioning nodule, nontoxic multinodular goiter, goiter recurrence, ablasi sisa jaringan tiroid pasca operasi. Terapi dengan iodine radioaktif tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan menyusui.

12. Prinsip kehati-hatian pada Radioactive Iodine Therapy sebagai berikut : kontraindikasi absolut untuk ibu hamil dan menyusui, tidak boleh bertemu dengan anak usia < 13 tahun dan ibu hamil dalam 3 hari pertama setelah minum iodium radioaktif atau setelah keluar dari kamar isolasi, tidak boleh hamil selama 6 bulan setelah minum iodium radioaktif, jangan menyusui setelah minum iodium radioaktif atau hentikan selama beberapa minggu, bilas toilet dengan air sebanyak mungkin setelah digunakan.

13. Pengobatan dengan iodium radioaktif (I-131) dapat diberikan berulang sampai total kumulatif 800 mCi dan tidak akan menimbulkan cancer lain/cancer sekunder.

14. Untuk pemantauan pasca total tiroidektomi & ablasi : puasa levotiroksin selama 4-6 minggu kemudian lakukan cek darah Tg, anti Tg dan TSH. Jika TSH > 30 maka angka Tg dan anti Tg baru bisa dipakai sebagai acuan untuk terapi selanjutnya.

15. Target TSH untuk tuna tiroid adalah 0.1 – 0.2.

16. Minum levotiroksin dalam keadaan perut kosong, 1 jam kemudian baru boleh makan . Sebaiknya minum pada waktu yang sama setiap harinya. Levotiroksin cukup diminum satu kali saja setiap harinya karena efeknya lama (sampai 20 jam).

17. Yang perlu diperhatikan sebelum pengobatan dengan iodium radioaktif (ablasi) :

  • Selama paling kurang 14 hari sebelum pengobatan hindari mengkonsumsi makanan laut, obat, jamu dan bahan lain yang mengandung kadar iodium tinggi serta tidak menggunakan obat gosok leher.
  • Ibu menyusui dan ibu hamil tidak boleh mendapat pengobatan iodium radioaktif, pastikan tidak sedang hamil.
  • Selama 6 jam sebelum minum iodium radioaktif harus puasa (boleh minum air putih), satu jam setelah minum iodium radioaktif baru boleh makan.
  • Iodium radioaktif diberikan 4-6 minggu setelah tindakan tiroidektomi total.
  • Harap konsultasikan dengan dokter tentang obat2an yang akan digunakan sebelum dan sesudah pengobatan


18.   Yang perlu diperhatikan setelah pengobatan (ablasi) :

  • Selama 3-4 hari setelah minum iodium radioaktif pasien akan ditempatkan di ruang isolasi khusus, tidak boleh bertemu dengan pengunjung, dan baru diizinkan meninggalkan ruang isolasi bila paparan radiasi sudah dianggap aman.
  • Dua minggu setelah pengobatan, makanan laut, obat, jamu dan bahan lain yang mengandung kadar iodium tinggi boleh dikonsumsi lagi termasuk menggunakan obat gosok leher.
  • Selama 6 bulan setelah pengobatan tidak boleh hamil.
  • Selama 6-12 bulan sekali dilakukan pemantauan untuk menentukan kadar TSHs, tiroglobulin, antibodi antitiroglobulin, pencitraan USG, dan sidk tiroid seluruh tubuh (whole body scanning). Bila hasilnya baik pemantauan berikutnya cukup dilakukan 2-3 tahun sekali.
  • Pakaian dan alat makan yang digunakan selama 3 hari terakhir setelah pemberian iodium radioaktif, setelah dicuci bersih dapat digunakan kembali.

19.   Hal-hal lain yang perlu diperhatikan pada pengobatan dengan iodium radioaktif :

  • Radiasi pembancar beta dari iodium radioaktif (I-131) akan mematikan sel2 kanker dan anak sebarnya.
  • Karena seluruh kelenjra tiroid sudah diangkat maka akan terjadi kekurangan hormon tiroid (hipotiroid), jadi perlu mendapat hormon tiroid dalam dosis supresi seumur hidup sebagai pengganti dan penekan pertumbuhan sel kanker.
  • Dosis hormon tiroid ditentukan oleh dokter berdasarkan kadar TSH.
  • 4-6 minggu sebelum dilakukan pemantauan, hormon tiroid dihentikan untuk merangsang kadar TSH, sebagai alternatif dapat diberikan thyrogen (human recombinant TSH) tanpa perlu menghentikan hormon tiroid.
  • Cairan iodium radioaktif tidak berbau, tidak berasa dan tidak menimbulkan alergi. Efek samping jarang terjadi, bisa terjadi mulut kering, gastritis, eksaserbasi hipertiroidi dan pemburukan oftalmopatia aktif (bila ada).

Demikianlah beberapa hal yang sempat aku catat dari seminar tersebut. Tentunya tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada pihak RSPP yang telah menyelenggarakan seminar yang sangat bermanfaat tsb secara gratis.

Minggu, 17 April 2016

APAKAH KELENJAR TIROID ITU?

 
Dulu sebelum kena ca tiroid, aku hanya tau bahwa kelenjar tiroid itu adalah kelenjar gondok dan penyakit tiroid itu adalah penyakit gondok (penyakit yang lehernya membesar). Setelah terkena ca tiroid barulah aku mencari referensi lebih banyak mengenai kelenjar tiroid.

Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang berbentuk seperti kupu-kupu Ƹ̵̡Óœ̵̨̄Æ· yang letaknya di leher sebelah depan bagian bawah, tepat di bawah jakun dan mempunyai sejuta peran dalam tubuh kita. Kelenjar tiroid adalah salah satu kelenjar pada sistem endokrin di dalam tubuh kita yang menghasilkan hormon tiroksin.
Kelenjar tiroid bekerja seperti suatu pabrik yang menggunakan iodine (kebanyakan berasal dari seafood atau garam) untuk menghasilkan hormon tiroid.
Hormon tiroid membantu mengatur metabolisme tubuh dan beberapa proses penting dalam tubuh misalnya pertumbuhan dan metabolisme lain pada tubuh.
Dua hormon tiroid yang paling penting adalah thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3). Ketika dikeluarkan dari kelenjar tiroid ke dalam darah, sejumlah besar T4 dirubah menjadi T3, hormon aktif yang mempengaruhi metabolisme seluruh sel.
Sistem endokrin pada tubuh kita terdiri dari berbagai kelenjar yang menghasilkan hormon seperti pada gambar di bawah ini

 
 
Tiroid diatur oleh kelenjar lain yang berada di otak yaitu pituitary.  Sebaliknya, pituitary diatur oleh sirkulasi hormon tiroid (melalui “feedback” efek hormon tiroid pada kelenjar tiroid) dan oleh kelenjar lain yang disebut hipotalamus.
Hipotalamus mengeluarkan hormon yang disebut thyrotropin releasing hormone (TRH) yang mengirimkan sinyal kepada kelenjar pituitary untuk mengeluarkan thyroid stimulating hormone (TSH). Selanjutnya, TSH mengirimkan sinyal kepada tiroid untuk mengeluarkan hormon tiroid.
 

Laju produksi hormon tiroid dikendalikan oleh kelenjar pituitary. Ketika pituitary merasakan hormon tiroid yang bersirkulasi dalam darah tidak cukup, maka kelenjar pituitary tsb akan mengeluarkan  TSH untuk menstimulasi kelenjar tiroid agar mengeluarkan hormon tiroid lebih banyak. Sebaliknya, ketika hormon tiroid yang beredar dalam darah berlebih, maka level TSH akan turun untuk memberikan perintah pada kelenjar tiroid agar menurunkan produksi kelenjar tiroidnya.

Selain itu ada sel khusus pada tiroid yang memproduksi hormon yang disebut calcitonin. Tidak seperti T3 dan T4, calcitonin tidak terlibat dalam metabolisme. Calcitonin mengatur kalsium dengan mengurangi kadar kalsium dalam darah. Kelebihan kalsium dalam darah disebut hypercalcemia.

 
 

Senin, 04 April 2016

KANKER BUKAN AKHIR SEGALANYA


Tulisan ini terinspirasi dari mba Tri Wahyuni Zuhri, dari bukunya yg berjudul “Kanker Bukan Akhir Dunia” (walaupun blm baca bukunya karena belum punya, sdh nyari di toko buku tapi belum ketemu), dan tulisan2 di blog-nya (www.yunirahmat.blogspot.co.id ).
Ketika pertama kali divonis kanker tiroid 4 tahun yg lalu, wah...rasanya gak karuan. Sedih, takut, rasanya terpuruk banget dan seperti ada beban berat banget di pundak.....apalagi mengingat kedua anak kami yang masih sekolah & kuliah (si kakak masih kuliah semester  4 dan si adik SMA kls XI) yang tentunya masih butuh bimbingan dari ortu-nya. Saat itu karena pekerjaan, aku juga hidup terpisah dari keluarga, aku di Jakarta, suami di Palembang, si kakak di Yogya dan si adik boarding school di Bogor, dan ibu- serta adik2ku sebagian besar di Palembang. Tambah berat rasanya karena aku jadi gak leluasa berbagi dengan keluargaku. Takut dan sedih aku rasakan sendiri.
Bolak balik ke dokter utk melakukan berbagai pemeriksaan lanjutan juga aku jalani sendiri, kadang di taxi sepulang dari dokter aku diam2 menangis sendiri......ya iyalah....masak nangis bareng sopir taxi....hehehe
Tapi.....live must go on kan..... aku gak mau lama2 terpuruk....aku harus bangkit.
Setelah 2 bulan mencari info sana-sini utamanya melalui internet dan dari temen kantor yang sdh lebih dulu total tiroidektomi,  akhirnya aku mulai sedikit merasa lega karena ternyata apabila ditangani sejak dini maka kanker tiroid termasuk kanker yang lebih gampang ditangani dan tingkat kesembuhannyapun tinggi.....tapi ingat ya....dengan catatan harus ditangani sedini mungkin...
Per-lahan2 aku bisa menerima kenyataan ini dan yakin pasti ada hikmah di balik semua ini serta yakin dengan izin Allah  aku bisa menjalani semuanya.
Dengan dukungan keluarga dan keinginan untuk sembuh & sehat serta diiringi doa yang gak putus2....akhirnya aku memutuskan untuk melakukan operasi tiroid.
Aku beruntung karena semua pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan tempatku bekerja sehingga aku gak perlu susah memikirkan biaya operasi, ablasi, pemeriksaan macam2 dsb yang tentunya  memerlukan biaya yg tdk sedikit. Aku juga merasa nyaman karena aku ditangani oleh dokter yg sangat profesional dan berpengalaman di RS yang bagus.
Setelah menjalani 2 kali operasi (total  thyroidectomy) dan 1 kali ablasi.......sampai saat ini aku merasa baik2 saja.....alhamdulillah....walaupun aku harus mengkonsumsi obat (hormon tiroid sintetis) seumur hidup.  Aku bisa menjalani aktivitasku seperti biasa, sebagai pekerja kantoran, sebagai ibu rumah tangga, sebagai mahluk Allah dan sebagai anggota masyarakat.
Memang sekarang kondisi fisikku tdk sama dengan sebelumnya, aku gampang capek (cenderung fatigue...sudah bukan tired lagi ya...), pengantuk, adakalanya seperti kehabisan energi (apalagi di saat2 harus puasa obat), kadang emosi juga gak stabil, pelupa, rambut rontok, kulit cenderung kering, berat badan gak bisa turun lagi (bahkan cenderung terus bertambah).....tapi ah sudahlah.....bagiku itu bukan hal yang harus dikeluhkan...... Kalau capek, ya istirahat aja. Kalau ngantuk ya tidur (kalau siang dan di kantor? Ya pejamkan mata sejenak di saat jam isitirahat....barang 10 atau 15 menit). Rambut rontok, ah...gak apa2. Kulit kering, ya rajin2 pakai pelembab atau body lotion. Gendut, bukan masalah.....yang penting duluuuu aku pernah langsing....hehehe.... Toh banyak baju yang bisa menyamarkan bentuk tubuh....
Berikut ini adalah beberapa ikhtiar yang perlu kita jalani agar tetap sehat dan dapat beraktivitas serta melanjutkan hidup dengan nyaman sebagai thyroid cancer survivor (ini dari pengalamanku sendiri....dan yakinlah... it's work) antara lain yaitu :
  1. Lakukan pengobatan dengan disiplin. Pengobatan yang utama adalah secara medis, bukan dengan cara “alternatif”. Kita harus taat dan disiplin makan obat, harus taat dan disiplin melakukan cek darah, periksa ke dokter, dan melakukan pemeriksaan lain2 (whole body scanning, dll). Kalau memang sebelum jadwal pemeriksaan atau tindakan kita harus puasa makan obat, maka puasalah....walaupun di saat puasa makan obat kondisi badan kita akan menjadi semakin gak karuan.....tapi yakinlah bahwa kita bisa menjalaninya demi kesembuhan dan kesehatan kita.
  2. Pilih dokter atau RS yang membuat kita nyaman.....yang gak membuat kita malas tiap kali harus kontrol rutin.
  3. Jalankan pola hidup sehat......makan makanan yang sehat dan bergizi, gak perlu ikut2an diet terlalu ketat karena sebagai cancer survivor tubuh kita butuh energi yang cukup. Istirahat yang cukup, lakukan olahraga ringan & jangan terlalu memaksakan diri.
  4. Jangan bebani pikiran dengan hal2 yang rumit, selalu positive thinking. Jangan pikirkan apa kata orang tentang kita, selagi kita berjalan pada rel yang benar maka jalanilah kehidupan kita apa adanya.
  5. Lakukan hal2 yang kita sukai......berkebun, merajut, traveling, memasak, membaca, apapun yang membuat kita merasa tenang, gembira, antusias, nyaman. Jika ada komunitas yang sejalan dengan visi kita, bergabunglah dengan komunitas tsb dimana kita bisa sharing & saling support dengan sesama anggota komunitas. Untuk kita yang punya masalah dengan tiroid ada grup keren di whatsapp dan facebook yaitu Pita Tosca.
  6. Jalin hubungan yang baik dengan keluarga dan sahabat2 kita, karena kita perlu dukungan mereka. Sekali2 kita juga perlu curhat dan curhat terbaik selain kepada Allah swt adalah kepada keluarga terdekat ataupun sahabat baik.
  7. Dan yang paling penting.....dekatkan diri pada Allah Yang Maha Menyembuhkan, jangan henti berdoa memohon kekuatan, kesembuhan dan kesehatan.
Dengan menjalankan beberapa ikhtiar di atas, Insya Allah kita bisa melanjutkan hidup dan  beraktivitas dengan nyaman.
Jadi kesimpulannya adalah “kanker bukan akhir segalanya”. Hidup harus berlanjut.  Dan bisalah dikatakan aku adalah seorang pejuang.....pejuang tiroid..... seorang thyroid cancer survivor alias penyintas kanker tiroid.
Foto2 di bawah ini menunjukkan bahwa aku bisa beraktivitas layaknya orang yang sehat, bekerja, bersosialisasi, travelling.....karena sesungguhnya aku memang "sehat".
 
Sebagai pekerja kantoran

sesekali harus ke lapangan

kalau ke lapangan harus pakai overall

travelling ke Lombok

Jalan2 ke Raja Ampat

Schwerin-Germany, saat mengunjungi si adik

Berlin-Germany

Kumpul dgn kawan SMA

Kumpul dengan kawan kuliah


Kumpul dengan keluarga Bogor

Kumpul dengan keluarga Palembang
 

Sabtu, 26 Maret 2016

HIDUP TANPA KELENJAR TIROID


Puasa Thyrax Tahap I
Kalo ditanya gimana rasanya hidup tanpa kelenjar tiroid? Jawabannya : gak enak banget.
Sebelum di-ablasi, aku puasa makan thyrax selama 3 minggu plus 2 minggu sebelum scanning. Pasca ablasi, selama menjalani isolasi, aku juga puasa thyrax. Jadi kalo di-hitung2 aku puasa thyrax selama hampir 6 minggu.
Nah, selama 6 minggu itu badanku rasanya gak karuan deh,lesu,  lemes seperti gak punya tenaga, gak bersemangat, males ngapa2in, ngantuk terus, kadang2 pusing, emosi gak stabil. Pokoknya kacau deh.
(aku puasa thyrax tgl 01 – 14 Agustus 2012, tgl 15 Agustus 2012 scanning. Tgl 16 – 27 Agustus 2012 makan thyrax 2 x 1 perhari, puasa thyrax lagi tgl 28 Ags – 21 Sep 2012).

Pasca Ablasi aku makan thyrax 1 butir perhari (sesuai rekomendasi dokter spesialis nuklir). Tapi rupanya walaupun sudah makan thyrax badanku masih gak karuan rasanya. Jadi dosis 1 butir thyrax perhari itu kayaknya belum cukup.

Tgl 11 Oktober 2012 aku kembali ke dokter Erwin, melaporkan aku sudah selesai ablasi dan berkeluh kesah bahwa badanku gak karuan. Dokter Erwin bilang, ya pantes aja badan jadi lesu, lemes, pusing, kan metabolismenya terganggu bahkan gak terjadi karena terlalu lama puasa thyrax dan juga sekarang dosisnya kurang. Jadi oleh dokter Erwin aku disuruh makan thyrax dg dosis 2 tablet  perhari  (seperti dosis sebelum ablasi).
Nanti setelah sebulan, aku disuruh cek darah untuk melihat apakah dosisnya sudah cukup apa belum?

Tapi belum sebulan dosis thyrax-ku dinaikkan, sudah terasa perubahan di tubuhku. Aku jadi merasa selalu kepanasan, keringat berlebih, dan yang paling membuatku takut adalah jantungku jadi ber-debar. Tapi aku tetap mempertahankan dosis ini selama sebulan sampai tiba saatnya cek darah lagi.
Ternyata hasil cek darahku menunjukkan bahwa dosis thyrax-ku berlebih jadi dosis thyrax-ku diturunkan menjadi 1 ¼ butir perhari. Aduuhhh dokter, gimana obat sekecil itu dibagi 4? Kata dokter, hari ini makan 1 butir, besok 1 ½ butir, jadi dalam 2 hari 2 ½ butir, artinya secara matematis perharinya 1 ¼ butir.
Setelah 2 bulan lebih makan thyrax dengan dosis 1 ¼ butir perhari,aku merasa dosisnya belum pas (kurang?) karena msh merasa badan gak karuan. Tapi mau menaikkan dosis sendiri (tanpa konsul dg dokter) aku gak berani.
Satu hal lagi, pasca ablasi, aku jadi gampang alergi, timbul bentol-bentol merah dan gatal di kulitku. Hampir tiap hari alergi.


 Puasa Thyrax Tahap II

Sesuai jadwal yang diberikan pak Tetra pasca ablasi, maka mulai tgl 23 Februari 2013  aku puasa thyrax lagi selama sebulan untuk persiapan pemeriksaan darah.
Namun baru masuk hari ke 10, kondisiku sudah gak karuan. Badan lemesnya minta ampun, bawaan ngantuk terus, males ngapa2in, dan selalu merasa sedih. Dan dampak lainnya yaitu berat badanku mulai naik lagi…duuhhh….Padahal masih harus puasa sampai pas sebulan……ah… mudah2an aku diberi kekuatan untuk terus puasa thyrax sampai sebulan dan mudah2an hasil tes darahku nanti bagus semua hasilnya, aamiin…..

Hari Rabu tanggal 20 Maret 2013, aku diambil darah utk cek kadar thyroglobulin, antithyroglobulin dan TSHs.

Yang aku rasakan selama puasa thyrax hampir sebulan adalah :

  • Badan terasa lemes, selalu merasa ngantuk (akibatnya mata makin keliatan sipit krn rasanya mau nutup trs), malas bergerak, lamban.
  • Berat badan bertambah ± 3 kg.
  • Susah tidur karena selalu merasa kepanasan, sementara suhu tubuh rendah hanya sekitar 35 0C vs normal biasanya sekitar 36 – 36.5 0C.
  • Emosi gak stabil, sering merasa sedih dan juga menjadi pelupa.
  • Kulit menjadi kering dan makin sering alergi (bentol2 merah dan gatal).
Waktu ambil darah dan ketemu pak Tetra ditanyain, gimana rasanya puasa thyrax sebulan? Ya jelas lemes banget pak….. Kata pak Tetra, ada pasien yg baru 2 minggu puasa udah gak kuat… hehehe…berarti aku masih termasuk kuat dong walaupun sebenernya aku juga pada saat2 tertentu pengen nyerah juga karena gak kuat.
Tapi kalo dokter Erwin tau aku puasa thyrax hampir sebulan, pasti diomelin, karena menurut dokter Erwin puasa thyrax cukup 2 minggu karena pasien pasti akan lemes kalau puasa lebih dari 2 minggu.
Sekarang tinggal menunggu hasilnya nih. Harusnya Kamis tgl 21 Maret aku sdh bisa ke dokter Erwin untuk lihat hasilnya, tapi berhubung Kamis itu aku harus dinas ke luar kota, jadi aku rencanakan ke dokter Erwin hari Senin tgl 25 Maret 2013.

Hari Senin tanggal 25 Maret 2013 aku ke dokter Erwin dan dirujuk untuk whole body scanning (WBS) 6 bulan pasca ablasi.
Selanjutnya tanggal 02 April 2013 aku menjalani WBS di Bag Kedokteran Nuklir .
Hasil WBS ku alhamdulillah bagus, begini yang tertulis pada laporannya : "Tidak tampak jaringan sisa pada tiroid bed maupun di organ lain yang patologis. Uptake iodium jauh di bawah batas normal".
Hasil test darahku minggu lalu juga semua dalam batasan normal.

Dari hasil2 tsb, artinya tubuhku sudah bersih dari sisa2 kanker dan tidak ada metastasis dan selanjutnya aku diminta untuk melanjutkan dosis thyrax seperti yang lalu yaitu 1 ¼ butir perhari.

Namun Dr Erwin berpesan agar aku tetap kontrol dan cek darah secara rutin untuk memastikan dosis thyrax-ku cukup atau tidak.
Sampai bulan Agustus 2013 aku kontrol secara rutin (2bulan sekali) ke Dr Erwin, dan sejauh itu kondisiku Alhamdulillah "baik-baik" saja, dalam arti aku bisa menjalani aktivitas seperti biasa, walaupun ada kalanya aku merasa letih, lesu, gak semangat, ngantuk all day long, kadang emosi gak stabil, pelupa, berat badan gak bisa turun lagi, rambut rontok, kulit cenderung kering......typical penderita hipotiroid.....walaupun kadar  FT4 dan TSH ku berada dalam batasan normal.

Bulan September 2013 aku pindah ke Palembang sehingga gak bisa lanjut kontrol rutin ke Dr Erwin di RSPP.




PENGALAMANKU MENJALANI ABLASI RADIOAKTIF


Hari Pertama di Ruang Isolasi (Senin, 17 September 2012)
Sesuai perjanjian, aku tiba di Bag Kedokteran Nuklir RSPP kira2 jam 9.15 pagi diantar suami, adik dan adik ipar. Bawaanku cukup bnyk terdiri dr satu koper kecil isi mukena + sejadah, pakaian utk plg, jaket, pakaian dlm, kaos kaki dan bbrp buku bacaan yg sengaja dibeli hari sebelumnya. Satu tas lagi isi air mineral 3 botol @ 1.5 liter, buah2an, cemilan, tablet hisap vit C, alat mandi, dll. Plus laptop dan modem.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, aku dan seorang pasien lagi (Dona), dg diantar keluarga diajak pak Tetra naik ke lantai 4 tempat ruang isolasi berada. Kami dibawa msk ke ruang perawat dan diberi penjelasan oleh perawat ttg penata-laksanaan di ruang isolasi, antara lain bahwa nanti tdk ada perawat yg msk ke ruangan, termsk cleaning service, jd kami hrs menjaga kebersihan ruangan sendiri. Yang akan masuk (tp cuma sampai di balik pintu) adalah petugas pengantar makanan dan petugas dr Kedokteran Nuklir yang akan mengecheck setiap hari. Di kamar dipasang CCTV yg terhubung ke ruang Perawat, jadi perawat hanya memonitor kami dari CCTV dan sekali2 akan menelpon menanyakan kondisi kami. Pakaian ganti (piyama), tissue dan handuk utk sekitar 4 – 5 hari sdh disiapkan di kamar.
Kami boleh mendapat kiriman makanan dari luar tp hrs diserahkan ke Ruang Perawat dan nanti akan diantarkan oleh petugas pengantar makanan. Oiya, rupanya ada juga pantangan makanan selama proses ablasi ini yaitu seafood, brokoli dan kembang kol.


Kemudian kami diantar oleh perawat dan pak Tetra ke kamar isolasi (kamar 404), kamar yg paling ujung. Kamarnya isi dua bed, di sisi2 tempat tidur dipasang semacam partisi yg berat (anti radiasi?). Pak Tetra menjelaskan juga mengenai penata-laksanaan ablasi. Kami akan minum obat radioaktif kira2 jam 11 siang krn aku tadi terakhir makan jam 7 pagi (hrs ada selang waktu 4 jam antara makan dan minum obat).  Selama 1 jam setelah minum obat, tidak boleh makan minum dulu. Nanti setelah 1 jam baru boleh minum dan makan.
Kami dianjurkan minum se-banyak2nya spy obat yg tdk terserap oleh tubuh (sisa kelenjar tiroid) langsung dibuang melalui urine. Kami juga disarankan untuk mandi dan keramas minimal satu kali sehari untuk mempercepat pembuangan sisa2 bahan radioaktif dr tubuh kami.

Oiya, pengertian ablasi adalah “pemberian per-oral Iodium-131 dosis tinggi (30 – 150 mCi)”, yang gunanya untuk menghancurkan sisa2 kelenjar tiroid pasca total thyroidectomy.
(Note : satuan mCi = mili Currie)
Jam 11, setelah perawat mengecheck tekanan darah dan suhu tubuh kami, pak Tetra mulai membuka dua tabung berisi Iodium-131 dan melarutkannya dg air mineral utk selanjutnya kami minum. Tabungnya kecil kira2 sebesar mug tapi beratnya minta ampun...... dan iodium-131 yang dilarutkan masing2 sebanyak 7 ml.  Ternyata tidak ada rasa apa2 selain rasa air mineral biasa.
Oiya, sesaat sebelum tabung dibuka, semua perawat dan pengantar diminta keluar ruangan, jadi tinggal kami berdua dan pak Tetra. Pak Tetra memakai rompi khusus.
Setelah itu kami ditinggal oleh pak Tetra.
Jam 12.15 kami makan dan mulai minum sesering mungkin, akibatnya jadi sering buang air kecil.
Kami tidak boleh buang air kecil di kloset, tapi hrs ditampung di tempat khusus utk selanjutnya dimasukkan ke jerigen khusus juga krn nantinya akan dibuang ke suatu tempat khusus.
Hari pertama aku lalui dengan membaca, internetan, tidur.......
 Hari Kedua di Ruang Isolasi (Selasa, 18 September 2012)
Bangun tidur di hari kedua aku langsung meraba dan merasakan bagian leherku, ahhh...ternyata aman2 aja, gak ada rasa sakit, atau bengkak. Cuma lidah aja agak terasa kurang enak dan sedikit rasa kering di tenggorokan. Pagi2 suster telpon tanya keadaan kami berdua juga tanya suhu tubuh kami (pagi ini suhu tubuhku 36.8 0C, normal)
Kemarin kami diberi 4 macam obat, Ranitidin tablet 3x1  (mengurangi sekresi asam lambung), Dexanta sirup 3x1 sdm (antasida, pelindung dan menghilangkan kembung pada lambung), Lanadexon tablet 2x1 (anti inflamasi, rematik dan alergi) dan Laxadine sirup 1x1 (pencahar). Kata pak Tetra, obat2 itu untuk mengurangi efek yang akan timbul setelah minum Iodine-131, antara lain leher bengkak, mual, dll.
Hari kedua mulai terasa bosan karena praktis tidak ada yang bisa dikerjakan selain baca, nonton tv, bbm-an, ngobrol, tidur.
Kira2 jam 10 pagi, idola baru kami, pak Tetra, datang untuk mengukur kadar radiasi di tubuh kami menggunakan semacam alat seperti senter yg diarahkan ke tubuh kami. Ternyata tingkat radiasi di tubuh kami msh tinggi, msh > 2.5 mR/h, jadi belum boleh pulang. Perkiraan pak Tetra kami baru bisa pulang hari Jum’at tgl 21 Sep (Kamis 20 Sep adalah Pilkada DKI, jadi hari libur). Yaaa....penantian panjang..... tapi harus tetap semangat......
(Note : satuan mR/h = mili Rontgent/jam)
Hari Ketiga di Ruang Isolasi (Rabu, 19 September 2012)
Pagi ini keadaanku baik2 aja, semuanya berjalan normal. Cuma masih ada rasa gak enak di lidah dan rasa agak kering di tenggorokan. Sarapan nasgor, minum susu dan teh hangat. Suster telpon utk tanya keadaanku dan suhu tubuhku (pagi ini 36.6 0C).
Sehabis mandi, kira2 jam 8.30 Pak Tetra datang utk mengukur tingkat radiasi di tubuh kami berdua. Alhamdulillah pagi ini tingkat radiasi di tubuhku sudah turun menjadi 1.6 mR/h, namun belum aman untuk bisa diperbolehkan pulang. Kata pak Tetra tunggu sampai < 1.0 mR/h baru boleh pulang. Yaaa....harus bersabar nih.
Mulai bosan, tapi harus tetap bersabar untuk bisa pulang.
Jadi kegiatanku diisi dgn baca buku, bbm-an dgn keluarga dan teman, facebook-an, dengar murottal, nonton tv, dll. Pengen baca Al Qur’an tapi aku sdg berhalangan.
Pengen skype-an dgn anakku yg sdg study di Bremen, tapi waktunya gak pernah pas. Kalo aku sdg internetan, anakku sdg di jalan. Nanti anakku udah pulang dan bisa skype-an, akunya udah tidur. Maklum karena perbedaan zona waktu, jadi ada selisih waktu 5 jam antara Jakarta dan Bremen.
Gak disangka, siang hari kawan2 SMP ku berkunjung, padahal sdh dibilang aku gak boleh dibezuk. Jadilah kami ngobrol lwt HP dibatasi pintu kaca dan partisi. Terima kasih buat Lisa, Annisa, Lena, Nasir, Boy dan Sanusi juga buat Ita Komar, yg sdh membawa keceriaan utkku.....(big hug utk kalian semua). Terima kasih juga buat kawan2 yg sdh mengirimkan doa dan sapa salam lewat bbm, fb, dll. Semoga budi baik kawan2 semua dibalas Allah swt dg kebaikan juga, aamiin.
Sejak siang mulai ada rasa gak enak di tenggorokan/leherku, terasa sakit dan agak bengkak. Sebelumnya memang sudah dikasih tau pak Tetra dan juga perawat bahwa mungkin kami akan merasakan hal2 yg kurang enak seperti ini. Rupanya di hari ketiga aku baru mulai merasakannya, sementara teman sekamarku gak merasakan sakit seperti aku, cuma merasa agak mual. Yaahh reaksinya terhadap tubuh mmg ber-beda2 ya. Mudah2an rasa gak enak ini gak berlangsung lama.
Mulai mati gaya niihhh....se-hari2 cuma diisi baca, nonton tv, internetan, bbm, fb, tidur, makan (3x sehari + snack 2x), mandi + keramas pagi dan sore (katanya supaya mempercepat proses pembuangan kadar radioaktif dr tubuh, jd walaupun setelah mandi kedinginan ya tetap kami lakukan saking pengennya cepat bisa pulang....qiqiqi....).
Alhamdulillah, mulai maghrib hari ini aku sdh bisa sholat lagi.
Hari Keempat di Ruang Isolasi (Kamis, 20 September 2012)
Subuh ini aku bangun dg msh merasakan sakit di leher/tenggorokan. Hari ini adalah Pilkada DKI putaran kedua, jadi hari libur. Kemarin Pak Tetra bilang bahwa mereka juga libur, berarti hari ini gak ada yg ngukur tingkat radiasi di tubuh kami dong?
Pagi ini suhu tubuhku normal, 36.7 0C. Gak ada keluhan berarti kecuali rasa sakit sedikit di leher/tenggorokan itu.
Namun mulai agak siang perutku terasa kembung dan seharian berbunyi kriuk....kriuk....padahal sdh diantisipasi dg obat2an di atas. Untuk buang air besar juga agak susah. Aku tanya teman sekamarku, rupanya dia juga merasakan hal yg sama. Rupanya ini salah satu dampak dari ablasi ya?
Menanti adalah hal yg paling membosankan, tapi aku hrs tetap bersabar menunggu smp tingkat radiasi di tubuhku mencapai batas aman dan diperbolehkan pulang. Mudah2an besok kami sudah diperbolehkan pulang. Masuknya barengan, pulangnya juga harus barengan, bukan begitu mba Dona?
Hari Kelima di Ruang Isolasi (Jum’at, 21 September 2012)…..boleh pulang…..
Pagi ini aku bangun tidur dengan semangat krn Insya Allah bisa pulang. Suhu tubuhku normal, 36.5 0C. Kira2 jam 7.30, kami disuruh turun ke Bag Kedokteran Nuklir untuk whole body scanning (WBS), pdhl blm mandi…uuupppss… ya udah deh, kami turun dengan perasaan deg2an spt mau divonis….
Yang duluan discanning aku, disuruh berbaring, ihhh ngeri juga kayak mau diapain aja, pdhl gak berasa apa2. Prosesnya berlangsung kira2 setengah jam. Setelah aku gantian Dona yg discanning.
Setelah itu kami kembali ke kamar. Kami langsung beres2, mandi, dll, karena kata pak Tetra, apapun hasil scanningnya kami pasti boleh pulang hari ini.
Kira2 jam 9 pak Tetra datang, membawa hasil whole body scanning kami. Rupanya sisa jaringan tiroid di tubuhku lebih banyak disbanding Dona, makanya aku merasa sakit dan  bengkak di leher sementara Dona tidak. Itu krn aku lebih bnyk menyerap larutan Iodine-131. Kata pak Tetra, nanti per-lahan2 sisa jaringan tiroid itu akan terkikis krn di tubuh kami msh ada sisa Iodine-131 yang akan mengikisnya (hsl check terakhir, msh ada 0.5 mR/h), namun sdh aman utk berinteraksi dg orang lain (kecuali dg ibu hamil dan balita).
Ternyata pasca ablasi, ada pantangan makanan untuk kami yaitu : seafood, coklat, brokoli, kembang kol, daun singkong dan garam tinggi yodium. Kalo utk seafood dan garam, itu krn mengandung yodium tinggi yg dpt memicu jaringan tiroid aktif lagi, tapi untuk , coklat, brokoli, kembang kol, daun singkong, kenapa ya? 
Sediihhh…..jadi banyak pantangan kayak gini….tapi gpp deh, yg penting sehat.
Kira2 jam 13, aku baru bisa pulang setelah selesai urusan administrasi, dll. Alhamdulillah…..akhirnya aku bisa pulang. Mudah2an tuntas sudah pengobatanku setelah menjalani dua kali operasi (total thyroidectomy) dan internal ablation, dan selanjutnya tinggal me-maintain aja.
Oiya, sebelum kami pulang, “tabungan kami” (baca : urine) yg dikumpulkan dalam jerigen selama kami diisolasi, dibawa oleh petugas Kedokteran Nuklir, katanya untuk dibuang ke suatu tempat khusus. Juga pakaian (piyama dan handuk) yang kami pakai selama diisolasi baru dibawa ke laundry untuk dicuci, karena katanya ada peraturan bahwa pakaian bekas pakai pasien ablasi baru boleh dicuci setelah seminggu, menunggu zat radioaktif yg terpapar pada pakaian tsb luruh dulu.

 
Bekal ke RS, sebagian besar adalah bacaan

 


Ruang isolasi, masing2 bed dibatasi partisi
Tabung berisi Iodine-131
Pak Tetra sedang menyiapkan cairan Iodine-131 yang akan kami minum
Teman yang bezuk dari balik pintu