Minggu, 20 November 2016

Tokyo - Day 1, 17 September 2016



Kami tiba di apartemen di Tokyo dini hari Sabtu 17 September 2016. Kami memilih apartemen ini untuk tempat tinggal selama di Tokyo karena punya fasilitas lengkap dan bersih. Letaknya berada di area pemukiman tidak jauh dari Hamacho Station (Toei Shinjuku Line) dan Suitengumae Station (Metro Hanzomon Line), kira-kira 10 menit jalan kaki. Di apartemen ini ada dapur dengan peralatan masak dan makan minum yang cukup lengkap, mesin cuci dan pengering plus setrika, tempat tidur yang cukup untuk 4 – 5 orang, peralatan mandi lengkap (handuk, sabun, shampoo, sikat gigi) juga menyediakan wifi dan wifi portabel yang bisa di bawa jalan2, jadi dimanapun tetap bisa terhubung dengan internet.
Setelah cukup beristirahat, kira-kira jam 10 pagi kami baru keluar untuk mulai explore Tokyo. Inilah salah satu alasan kami untuk traveling mandiri, selain bisa lebih hemat juga waktunya lebih fleksibel karena kami sendiri yang mengatur mau mulai jalan jam berapa. Dari apartemen kami jalan kaki menuju Suitengumae Station melewati pemukiman penduduk. Kesan yang didapat adalah area pemukimannya tertata rapi dan bersih, tidak ada sampah berserakan karena sampah rumah tangga dimasukkan dalam kantong yang hampir seragam dan sudah dipisahkan sesuai jenisnya dan diletakkan rapi di pinggir jalan untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan, tidak ada parit yang penuh sampah, mampet dan bau, tidak ada debu. Sampai di Suitengumae Station kami membeli Pasmo Card dulu seharga 1000 yen untuk transportasi kami selama di Tokyo, dimana yang 500 Yen adalah deposit. Pasmo Card ini bisa diisi ulang. 


Estem Plaza, apartemen tempat kami menginap di Tokyo

Ini Pasmo Card, bisa dipakai untuk berbagai moda transportasi
Stasiun terdekat dari apartemen, Suitengumae Station

Ueno Park

Tujuan pertama kami adalah Ueno Park yang terletak di kawasan Ueno, Distrik Taiko-ku. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 5 menit dari Stasiun Ueno, sampailah kami ke taman ini. Taman ini cukup luas, asri dan rindang,  dan biasanya menjadi salah satu tempat hanami saat musim semi karena banyak pohon sakura disini. Juga terdapat beberapa museum (antara lain Tokyo National Museum, Tokyo Metropolitan Art Museum, National Science Museum) dan kebun binatang (Ueno Zoo), serta beberapa shrine dan temple kecil, namun kami tidak masuk ke museum-museum dan kebun binatang tsb. Taman ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1873. Walaupun sudah cukup berumur namun taman ini terawat dengan baik dan sepertinya menjadi salah satu tujuan warga lokal untuk jalan-jalan bersama keluarga, terlihat dari banyaknya orang tua yang mengajak anak-anaknya jalan-jalan di taman ini. Masuk ke taman ini gratis lho. 

Salah satu sudut Ueno Park

Kebayang cantiknya di saat musim semi, dimana pohon -pohon sakura di sekeliling taman dipenuhi bunga

Kappabashi Street
Dari Ueno Park kami menuju ke Kappabashi Street, surganya pecinta pernak pernik dapur dan pemilik restoran karena disini terdapat  banyak sekali toko2 yang menjual beragam perlengkapan dapur sehingga kawasan ini dikenal juga sebagai Kitchen Town.  Kappabashi street ini terletak di antara Ueno dan Asakusa.  Stasiun terdekat untuk menuju ke sini adalah Tawaramachi Station (Subway Ginza Line), hanya perlu jalan beberapa menit maka kita akan sampai di Kappabashi Street. Melihat pernak-pernik dapur yang beraneka ragam disini, rasanya pengen beli juga, namun mengingat kami masih akan melanjutkan perjalanan ke Kyoto dan Osaka akhirnya kami mengurungkan niat untuk belanja pernak pernik dapur. Supaya ada kenang-kenangan dari sini akhirnya kami membeli satu set sumpit yang cantik.

Aneka toko pernak pernik dapur

piranti makan black n white.....eh ada yg merah juga....

imut-imut kan.....

sumpit cantik.....lumayan untuk kenang-kenangan

ada juga yang jual tas begini.....impor dari Indonesia kah?

Cuci mata di Kappabashi Street

  Asakusa

Dari Kappabashi Street selanjutnya kami menuju Asakusa. Tujuan pertama adalah Kaminarimon (Thunder Gate). Gerbang ini pertama kali dibangun thn 942 namun beberapa kali hancur, dan yang berdiri sekarang dibangun tahun 1950. Ramai sekali di depan gerbang  ini, sehingga susah sekali mencari spot foto yang agak lega. Di depan gerbang  ini ada beberapa beca Jepang (rikshaw) yang menunggu penumpang, biasanya yang menggunakan jasa beca ini adalah para wisatawan dengan rute area sekitar Kaminarimon  – Sensoji Temple. Selanjutnya kami menyusuri Nakamise Dori, shopping arcade atau jalanan menuju Sensoji Temple yang dikiri kanannya dipenuhi tokotoko souvenir. Jalanan ini padat sekali oleh wisatawan dari berbagai bangsa dan negara sehingga untuk melihat-lihat souvenir yang dijajakan di toko menjadi agak kurang nyaman karena cenderung berdesakan. Akhirnya sampailah kami di Sensoji Temple, atau disebut juga Asakusa Kannon Temple, yang merupakan temple Buddha terbesar di Tokyo. Disini juga ramai sekali, baik oleh para wisatawan yang hanya melihat-lihat maupun umat Buddha yang mau berdoa. Konon katanya temple ini dibangun tahun 628.  Selain Sensoji Temple, di komplek ini juga terdapat 5-Story Pagoda, sayang 5-Story Pagoda  tersebut sedang direnovasi jadi ditutup, benar-benar ditutup sampai tidak kelihatan.

Karinarimon Gate

Hozomon Gate

Hozomon Gate

Sensoji Temple

Salah satu sudut komplek Sensoji Temple

Sensoji Temple

Hozomon Gate

Cuci mata di Nakamise Dori


Kios makanan di dekat Sensoji Temple
  
Makan Siang di Naritaya

Setelah puas melihat-lihat Sensoji Temple dan karena sudah siang dan perut sudah lapar, maka kami menuju salah satu resto halal yaitu Ippin Ramen, ternyata hari itu resto tsb tutup, padahal kami sudah berjalan cukup jauh. Akhirnya kami kembali ke arah Sensoji Temple mencari resto halal lain yaitu Naritaya, rupanya resto ini tidak terlalu jauh dari Sensoji Temple. Ada beberapa pilihan ramen disini dan semuanya yummy....dan yang paling penting makanan disini semuanya halal jadi kami tidak was-was makan disini. Harganya juga worth it lah, sekitar 800-1000 yen per porsi yang cukup besar. Restonya kecil saja, jadi kami sempat mengantri dulu karena saat kami tiba semua tempat duduknya penuh. Ada beberapa orang Indonesia dan Malaysia yang makan disini, terdengar dari bahasa yang mereka pergunakan. Sambil menunggu tempat, kami sholat duhur-asar dulu karena resto ini juga menyediakan mushola walaupun kecil sekali, cukup untuk satu orang saja. Jadi resto ini benar2 muslim friendly. Pokoknya recommended lah untuk wisatawan muslim, makanan enak, halal, harga terjangkau dan tersedia tempat sholat yang lengkap dengan sejadah, mukena bahkan kain sarung juga tersedia.

Maksi ramen yummy, ini di lantai atas resto Naritaya, restonya vintage banget

salah satu menu, ramen + ayam goreng

Tampak depan resto Naritaya

Halal dan tersedia wifi gratis

 Edo Tokyo Museum

Setelah makan siang, kami menuju Edo Tokyo Museum yang terletak di distrik Ryogoku. Hanya perlu berjalan kaki sekitar  5 menit dari stasiun Ryogoku, sampailah kami ke museum ini. Tiket masuk ke museum ini adalah 600 Yen perorang. Cukup lama kami berada di museum yang cukup besar ini, melihat-lihat miniatur Tokyo jaman dulu atau dikenal sebagai Edo sampai tahun 1869. Kami juga melihat pertunjukan hiburan  yang dibawakan dengan menarik oleh seorang perempuan yang mengenakan kimono.  
Saat keluar dari museum dan akan menuju stasiun kami bertemu dengan beberapa pesumo yang baru keluar dari sebuah gedung yang terletak di samping Edo Tokyo Museum, yang ternyata gedung ini adalah Kokugikan Sumo Stadium. Mungkin pesumo2 tersebut akan melakukan pertandingan sumo atau bahkan baru selesai bertanding. Kelihatannya pesumo2 ini cukup terkenal karena cukup banyak orang yang berkerumun di depan gedung tersebut, sepertinya memang sengaja menunggu para pesumo itu keluar, bahkan ada beberapa yang mengajak foto bareng dan minta tanda tangan. 


Miniatur pemukiman jaman Edo

Miniatur pemukiman jaman Edo

Tandu bangsawan

Replika jembatan di perkampungan jaman Edo

Replika proses melahirkan jaman Edo

Replika toko buku jaman Edo

Replika bangunan jaman Edo

Pura-puranya naik beca

Hiburan oleh perempuan cantik berkimono

Banguna Edo Tokyo Museum yang modern

si penghibur yang cantik

Tiket masuk Edo Tokyo Museum

Ketemu rombongan pesumo
  
Tokyo Metropolitan Government Observation Deck

Dari Edo Tokyo Museum selanjutnya kami menuju ke Tokyo Metropolitan Government Building yang berlokasi di Shinjuku untuk naik ke observation deck-nya. Dari observation deck ini kami bisa melihat Tokyo dari ketinggian. Untuk naik kesini gratis lho.....mungkin karena gratis maka antriannya panjang.  Disini juga ada toko2 souvenir.Yang kami apresiasi adalah petugas yang mengatur arus masuk dan keluar pengunjung di pintu lift. Walaupun sudah malam dan masuk ke sana gratis, tapi para petugas tetap menjalankan tugas dengan baik, dengan keramah-tamahan khas Jepang dan selalu tersenyum.

Karena sudah malam, maka setelah dari Tokyo Metropolitan Gov Building, kamipun langsung pulang ke apartemen. Sebelum ke apartemen kami mampir dulu ke convenience store yang ada di dekat apartemen, yaitu Family Mart dan Seven Eleven,  untuk membeli makan malam dan untuk sarapan besoknya.

Minggu, 13 November 2016

Japan, We Are Coming



 Sekelumit Cerita tentang Persiapan

Setelah sekian lama kepingin liburan ke Jepang sekeluarga, akhirnya di pertengahan September yang lalu kami berkesempatan ke sana. Persiapan yang kami lakukan sebelum keberangkatan  antara lain adalah :
·         Pertama tentunya mengurus visa. Bagaimana cara mengurus visa ke Jepang, sudah saya tuliskan lengkap di tulisan saya sebelumnya.
·         Karena salah satu dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa adalah bukti tiket pesawat ke Jepang (pp) maka sebelumnya kami membeli tiket dulu. Berhubung rencana liburan ini cukup mendadak, dan harga tiket pesawat full board sdh mahal, maka akhirnya kami memilih budget airline, yang penting kami bisa tiba dengan selamat di tempat tujuan.
·         Setelah permohonan visa kami disetujui, mulailah kami mencari penginapan yang tarifnya terjangkau. Pilihan kami adalah apartemen yang kami cari via airbnb. Selain tarif terjangkau, pertimbangan lain adalah supaya kami bisa mencuci pakaian, memasak (paling tdk utk sarapan pagi) dan disediakannya wifi gratis + wifi portable oleh pemilik apartemen.

Di Tokyo kami memilih apartemennya Yuta di Nihonbashihamacho, Chuo-ku, dengan  tarif USD 538 untuk 4 malam. Di Kyoto kami memilih apartemennya Nami di Shinhiyoshichō, Kyōto-shi, Kyoto-fu dengan tarif USD 447 untuk 4 malam. Sementara di Osaka kami memilih apartemennya  Nanako di Higashi Nakajima dengan tarif USD untuk 1 malam.

·         Karena kami berencana mengunjungi beberapa kota yaitu Tokyo, Yokohama, Osaka, Kyoto dan Hiroshima, maka kami membeli tiket kereta api JR Pass untuk 7 hari seharga 29.110 Yen  per orang atau sekitar Rp. 3,7 juta per orang (tergantung kurs).
·         Tadinya kami mau menyewa Wifi portabel dari sini, tapi karena masing2 apartemen yang kami sewa menyediakan wifi portabel jadi kami batalkan rencana menyewa wifi portabel tsb.
·         Persiapan lain adalah mencek cuaca melalui acuweather, ternyata menurut acuweather cuaca selama kami disana masih relatif hangat (akhir musim panas) jadi kami hanya membawa baju2 tipis saja dan jaket yang tidak terlalu tebal untuk antisipasi siapa tau tiba2 cuaca berubah menjadi lebih dingin.
·         Kami juga menyusun itinerary berdasarkan hasil browsing dari internet, juga dari grup2 traveling di facebook, supaya ada patokan mau jalan kemana saja selama di sana.
·         Untuk makanan, kami hanya membawa sedikit saja makanan2 kering seperti mie instan, kornet sachet, sereal, kecap & sambal sachet, dan tak ketinggalan tolak angin cair sebagai senjata anti masuk angin. Karena berdasarkan hasil browsing, di Jepang khususnya di Tokyo, Osaka, Kyoto, sudah banyak resto2 halal. Selain itu kami juga menginap di apartemen yang menyediakan dapur dan alat masak, jadi kami bisa masak juga.
·         Oiya, untuk memudahkan perjalanan, kami sudah melakukan web check-in, baik untuk kepergian maupun kepulangan.


      Akhirnya.......Tiba di Jepang

Akhirnya hari Jumat 16 September 2016 pun tiba. Kami berangkat dari Jakarta jam 08.35 pagi menuju KL untuk transit disana. Selanjutnya dari KL kami berangkat jam 14.30 waktu KL menuju Haneda International Airport. Perjalanan alhamdulillah lancar. 
Kami tiba di Haneda sudah hampir tengah malam. Waktu lapor imigrasi kami kena random check. Mula2 si bapak yang kena, akhirnya kami berempat kena random check semua dan disuruh masuk ke suatu ruangan oleh petugas imigrasi. Mulanya kami bingung kenapa kena random check, kami tanyakan ke salah satu petugas yang ada di ruangan tsb tapi si petugas gak bisa menjelaskan. Selain kami ada beberapa orang yang kena random check dan semuanya merasa kebingungan. 
Setelah kira2 setengah jam dilanda kebingungan, akhirnya ada satu petugas yang mendatangi kami dan menanyakan dimana kami menginap sambil menunjukkan immigration form yang sudah kami isi saat masih di pesawat. Di immigration form tsb kami mengisi alamat kami menginap dengan alamat apartemen di Tokyo (nomor dan jalan dimana apartemen tsb berada). Kami jelaskan bahwa itu alamat apartemen yang kami sewa. Untung kami membawa print-out konfirmasi dari si pemilik apartemen jadi kami tunjukkan itu kepada si petugas, kami juga tunjukkan semua print out boarding pass untuk kepulangan, juga tiket JR Pass. Akhirnya setelah penjelasan tsb, paspor kami dicap....artinya kami bisa masuk ke Jepang.
Karena kami tertahan cukup lama di imigrasi, kami baru bisa keluar bandara Haneda sekitar jam 12 malam, artinya kendaraan umum yang menuju apartemen tempat kami menginap, baik kereta maupun bus  sudah tidak ada. Akhirnya kami naik taxi dengan tarif yang cukup mahal yaitu 8000 Yen... yaaa gimana lagi, tidak ada pilihan lain, daripada harus menginap di bandara menunggu jadwal kereta/bus yang paling pagi, yang penting kami bisa tiba dengan selamat di apartemen dan bisa beristirahat dengan nyaman setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.

Mengurus Visa Jepang



Untuk kepergian kami sekeluarga ke Jepang tahun ini, kami mengurus visa sendiri. Menurut  saya mengurus visa Jepang lebih mudah dibanding visa Schengen, dalam arti persyaratan/dokumen yang dibutuhkan tidak sebanyak untuk visa Schengen.
Langkah pertama yang kami lakukan adalah browsing ke website Kedutaan Jepang untuk mencari info mengenai persyaratan yang diperlukan.
Alamat website Kedutaan Jepang adalah : http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html

Adapun jenis-Jenis Visa Jepang  adalah sebagai berikut :
1.       Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Kunjungan Keluarga
2.      Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Kunjungan Keluarga (apabila Pengundang adalah WN Jepang yang berdomisili di Indonesia)
3.       Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Teman
4.       Visa Kunjungan Sementara untuk Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri
5.       Visa Kunjungan Sementara Berkali-kali (Wisata)
6.       Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Bisnis
7.       Visa Khusus (Visa Pelajar/ Bekerja/ Pelatihan/ Menetap dalam jangka waktu tertentu)
8.       Visa Transit
9.       Visa Single Entry Untuk Tujuan Group Tour Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) Yang Diselenggarakan Oleh Travel Agent Yang Ditunjuk

Karena kami bukan pemegang e-paspor dan akan melakukan kunjungan wisata dengan biaya sendiri, maka syarat-syarat/dokumen yang diperlukan untuk mengajukan permohonan Visa adalah sebagai berikut :
1.       Paspor (asli) yang masih berlaku minimal 6 bulan ke depan.
2.       Mengisi formulir permohonan visa (bisa didownload dari website di atas) dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil paling lama 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
3.       Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
4.       Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
5.       Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
6.       Jadwal Perjalanan/semua kegiatan sejak masuk hingga ke luar Jepang (menggunakan form itinerary  yang didownload dari website di atas), kami juga melengkapinya dengan bukti reservasi hotel (via booking.com).
7.       Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu dan berasal dari satu keluarga)
8.       Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya :
Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir
(bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya).
Untuk saldo pada rekening tidak ada ketentuan berapa, jadi kami serahkan saja rekening koran kami apa adanya.


Catatan :
*   Dokumen harus disusun sesuai urutan No. 2 - 8 sebelum diserahkan di loket permohonan visa.
*   Bagi yang termasuk dalam kategori berikut, maka Pemohon maupun anggota keluarga (suami/istri dan anak) tidak perlu melampirkan bukti keuangan (yang tercantum pada nomor 8). (Bila diperlukan, dokumen tambahan akan diminta untuk melengkapi atau membuktikan hal tersebut).
·                   Pemohon adalah karyawan perusahaan yang terdaftar di Bursa Saham Indonesia.
·                   Pemohon adalah karyawan BUMN.
·                   Pemohon adalah karyawan dari perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaan di Jepang.
·              Pemohon adalah karyawan dari perusahaan joint venture Indonesia - Jepang, atau anak perusahaan      Jepang, atau cabang dari perusahaan Jepang.
·                   Pemohon adalah karyawan dari instansi pemerintah.
·           Pemohon adalah budayawan/ seniman yang sudah go-international; atlit yang sudah diakui ; dekan, profesor,  asisten profesor dari universitas; pimpinan museum, atau lembaga penelitian pemerintah maupun swasta.

Sebenarnya jika melihat keterangan di atas, maka saya sebagai karyawan BUMN harusnya tidak perlu melampirkan bukti keuangan, tapi kami tetap melampirkannya dan menurut petugas di loket sebaiknya dilampirkan saja untuk antisipasi jika diperlukan, supaya kami tidak perlu bolak balik ke Kedubes untuk melengkapinya.
Oiya, kami juga melampirkan Surat Keterangan Kerja dari kantor saya (dalam Bhs Inggris), yang menerangkan bahwa saya punya pekerjaan di sini dan akan bepergian bersama keluarga serta biaya selama perjalanan ditanggung oleh saya sendiri.

Tempat pengajuan Visa Jepang.
Untuk mengurus visa ke Jepang bisa datang langsung ke Kedubes Jepang di Jakarta atau ke beberapa kantor konsulat Jepang di Surabaya, Medan, Denpasar dan Makasar , sesuai wilayah yuridiksi masing-masing. Karena kami berdomisili di Palembang maka kami ke  Kedutaan Besar Jepang di Jakarta (Sumatera Selatan masuk wilayah yuridiksi Kedubes Jepang di Jakarta).
Hari dan waktu pelayanannya seperti halnya kedutaan besar lainnya yaitu :
Hari Senin - Jumat, (kecuali pada hari libur nasional dan libur Kedutaan).
- Pengajuan Permohonan Visa : 08:30 - 12:00.
- Pengambilan Paspor : 13:30 - 15:00.

Biaya pengajuan Visa ke Jepang
Biaya permohonan visa ke Jepang untuk single entry adalah Rp. 330.000 dan dibayar saat kita mengambil visa, bukan saat menyerahkan dokumen persyaratan.
   
Proses Pengurusan Visa Jepang
Karena kami akan pergi sekeluarga berempat, dan karena saat itu hanya si adik yang punya waktu luang, maka yang datang ke kedutaan hanya si adik. Hal ini memang diperbolehkan namun harus membawa dokumen yang menyatakan bahwa yang akan bepergian tersebut memang satu keluarga, jadi saat itu si adik membawa kartu keluarga.
Si adik saat itu datang ke kedutaan hari Jumat 26 Agustus 2016 kira-kira jam 08.30 dan waktu pengurusannya (beserta antrinya) hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah menyerahkan semua persyaratan, si adik diberikan kertas/slip untuk pengambilan paspor/visa 4 hari kemudian.
4 hari kemudian, Rabu 31 Agustus 2016 sesuai yang dijanjikan, si adik kembali lagi ke Kedubes Jepang dan mendapat kepastian bahwa permohonan visa kami dikabulkan.....alhamdulillah.
Sebenarnya kami agak mepet waktunya mengurus visa karena kami akan berangkat tanggal 16 September 2016, dan sempat agak khawatir visa tidak disetujui padahal kami sudah beli tiket pesawat, tapi alhamdulillah pengurusan visa kami lancar dan selanjutnya kami bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan perjalanan kami.

Selasa, 16 Agustus 2016

SETELAH EMPAT TAHUN BERLALU

Menjalani Whole Body Scanning

4 tahun yang lalu atau tahun 2012 aku menjalani total thyroidectomy dilanjutkan dengan ablasi radioaktif untuk menghabiskan dan menghancurkan sel-sel cancer thyroid yang masih bersemayam di tubuhku.
Setahun setelah total thyroidectomy atau 6 bulan pasca ablasi, aku menjalani whole body scan (WBS) untuk melihat apakah masih ada sisa-sisa sel cancer di tubuhku, dan alhamdulillah hasil WBS saat itu menunjukkan bahwa tubuhku sudah bersih dari sel-sel cancer.
Seharusnya WBS dilakukan rutin minimal setahun sekali untuk mendeteksi secara dini jika ada sisa sel cancer thyroid atau jika sudah metastase ke organ tubuh lain, sehingga bisa ditangani sejak dini juga.
Namun karena sesuatu dan lain hal, antara lain kepindahan pekerjaanku kembali ke unit, juga karena aku merasa baik-baik saja, maka akhirnya selama 3 tahun aku tidak melakukan WBS. Selain itu ada juga rasa malas melakukan WBS karena harus berpuasa  levotiroksin untuk persiapan WBS selama kurang lebih 3 minggu.
Pengalaman sebelumnya saat akan menjalani ablasi dan WBS sehingga harus berpuasa levotiroksin selama 3 - 5 minggu, kondisi tubuhku rasanya seperti nano-nano.....berjuta rasanya. Kondisi tubuh jadi gak karuan, lemas sampai seperti tak bertulang, ngantuk sepanjang hari, berat badan naik, emosi gak stabil, seperti masuk angin terus menerus, kalau kecapekan maka setelahnya badan seperti habis digebuki......padahal aku harus tetap bekerja.....bisa dibayangkan bagaimana beratnya.
Selain itu juga harus menghindari seafood, mengurangi garam beryodium, gak boleh pakai obat gosok/balsem, gak boleh makan obat yang mengandung mint/mentol, gak boleh minum jamu-jamuan dan ada beberapa pantangan lagi.
Kalau badan masuk angin kan paling enak digosok pakai balsem atau minum jamu tolak angin....nah itu termasuk yang gak boleh....jadi bayangin aja, badan sakit-sakit semua karena masuk angin tapi dibiarin aja.....gak dikasih obat gosok, gak minum tolak angin.....berjuta rasanya kan.....
Kenapa kondisi tubuh bisa sampai seperti itu? Ya karena tanpa levotiroksin (hormon tiroid sintetis) maka metabolisme tubuh terganggu.....jadi hampir semua sel tubuh juga ikut terganggu.... begitulah....betapa pentingnya hormon tiroid......
Tapi setelah 3 tahun tanpa menjalani WBS, akhirnya aku berpikir dan ketakutan sendiri, bagaimana kalau ternyata sel-sel cancer tiroid di tubuhku tumbuh lagi dan bermetastase ke organ lain seperti yang dialami beberapa temanku? Kalau sampai tumbuh lagi atau metastase ke organ lain maka harus ablasi lagi.....membayangkan ablasi lagi membuatku sedih.....membayangkan diisolasi selama beberapa hari....duuhh.....

Akhirnya saat cuti di bulan Mei yang lalu, aku mampir ke Kedokteran Nuklir RSPP, minta dijadwalkan WBS. Aku dibuatkan jadwal sebagai berikut : mulai tgl 23 Juli puasa levotiroksin, 10 Ags ambil darah untuk cek TSHs, Tg dan anti Tg serta ditetes iodine I-131, kemudian tgl 11 Ags dilakukan WBS.
Kenapa dari Mei baru mulai puasa levotiroksin di bulan Juli? Karena bulan Juni – Juli kan Ramadhan kemudian Lebaran dan aku gak mau puasa levotiroksin di bulan Ramadhan, takut gak kuat.
Selanjutnya tgl 23 Juli mulailah aku puasa levotiroksin. Saat puasa, kadang tubuhku seharian strong, aku bisa beraktivitas seperti biasa tanpa kendala lemas atau pusing atau apalah. Tapi kadang seharian badanku lemas, terasa kedinginan sampai gemetaran. Pernah juga saat itu ada training seharian diselingi izin ke luar untuk melayat, malamnya badanku sakit dan pegal-pegal seperti habis digebuki. Masuk minggu ketiga puasa levotiroksin badanku rasanya masuk angin terus menerus, duuhh....rasanya .....cuma sesama survivor cancer tiroid yang mengerti.....
Tapi bagaimanapun juga, aku gak menyerah dengan kondisi tubuh yang up and down seperti itu.....aku bisa menyelesaikan puasa levotiroksinku.
Dan akhirnya tgl 10 Ags 2016 darahku diambil untuk cek TSHs, Tg dan anti Tg serta ditetes Iodine 131 sebagai cairan kontras untuk pemeriksaan WBS besoknya.
Keesokan harinya tgl 11 Ags 2016 dilakukan WBS. Selama proses scanning ......dalam keadaan diam gak boleh bergerak selama kurang lebih 45 menit, aku gak henti berzikir dan berdoa mengharapkan hasil terbaik. Aku pasrahkan semua kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena hanya dari kasih sayang Allah semata lah kita bisa sehat dan sembuh, kita manusia hanya bisa berikhtiar semaksimal mungkin.
Setelah menunggu hasilnya selama satu jam, dengan perasaan harap-harap cemas,  aku dipanggil dan diberikan hasil cek darah dan WBS. Alhamdulillah ya Allah, Engkau Maha Baik, hasil cek darah dan WBS ku baik semua, artinya tidak ditemukan sel-sel cancer tirod di tubuhku..... alhamdulillah..... alhamdulillah.....plong rasanya.....
Hasil lengkapnya sebagai berikut :
Hasil cek darah : tiroglobulin RIA 3.25 ng/mL dan anti-tiroglobulin 3.13 IU/mL.
Hasil WBS : tidak tampak sisa jaringan tiroid fungsional di lapang tiroid dan organ non-fisiologis lain.
Disertai saran untuk pemeriksaan berikutnya :
cek lab kadar TSHs pada 5 Sep 2016
cek lab Tg, anti-tiroglobulin antibodi pada 6 Feb 2017 tanpa puasa levotiroksin
cek lab kadar Tg, ATA dan pencitraan whole body pada 9 Ags 2017 dengan puasa levotiroksin mulai 24 Juli 2017.
Terima kasih Dr Ryna dan staf Kedokteran Nuklir RSPP yang telah melakukan pemeriksaan dan memberikan saran-saran untukku.


saat discanning

saat discanning

hasil cek darah dan WBS

Bagaimana Hasilnya Bisa Baik?
Ada beberapa teman sesama pejuang tiroid yang menanyakan apa kiatnya supaya hasilnya bisa baik terus dengan hanya sekali ablasi dan 3 tahun gak wbs? Terutama adalah bagaimana pola makanku, apakah ada pantangan tertentu? Karena selama ini banyak sekali yang bilang gak boleh makan ini atau itu, sampai-sampai takut makan makanan tertentu padahal itu cuma mitos yang belum diketahui bagaimana kebenarannya.
Kalau aku hanya menuruti apa kata dokter. Dokter onkologi bilang gak ada pantangan makanan apa-apa, pesannya hanya jangan berlebihan aja. Dokter nuklir bilang kurangi seafood, coklat, brokoli, kembang kol, daun singkong dan garam beryodium, pokoknya makanan yang mengandung yodium tinggi karena makanan cancer tiroid adalah yodium, beda dengan cancer-cancer yang lain. Yang perlu diperbanyak dan harus ada setiap hari adalah buah dan sayur segar.
Jadi aku hanya mengurangi makanan yang disebutkan tadi.....ingat ya....mengurangi....bukan tidak sama sekali. Jadi aku  tetap makan seafood atau coklat sekali-sekali..... namanya orang palembang mana bisa gak makan seafood (baca pempek....karena pempek kan pakai ikan dan biasanya pakai ikan laut seperti tenggiri, dll). Toh gak tiap hari juga makan pempek, ikan laut, cumi, udang atau kepiting.....hanya sekali-sekali dan gak banyak juga yang dimakan.
Untuk memasak juga masih pakai garam beryodium tapi kadarnya dikurangi.  Selain itu juga mengurangi makanan berpengawet, makanan kalengan, fastfood, msg,  minuman bersoda, tapi makanan-makanan ini sebenernya bukan perlu dihindari oleh penderita gangguan tiroid saja tapi orang yang sehatpun sebaiknya menjauhi makanan-makanan yang tidak sehat ini.
Bagaimanapun juga tubuh kita perlu nutrisi berupa karbohidrat, protein nabati & hewani, serat, lemak, vitamin, mineral, dalam proporsi yang seimbang. Meniadakan salah satu komponen tadi akan membuat nutrisi kita gak seimbang dan boleh jadi akan menyebabkan masalah kesehatan lain.
Jadi apa batasannya? Ya ikuti sunnah saja.....berhenti makan sebelum kenyang alias makan secukupnya, tidak berlebihan, apapun jenis makanannya dan yang paling penting adalah makanan tersebut harus halal dan terjaga kebersihannya.
Apakah aku makan herbal-herbal tertentu atau menjalani terapi alternatif lain seperti yang banyak diiklankan dan disarankan oleh teman-temanku, yang katanya bisa mengobati kanker, yang katanya kalau makan herbal tertentu atau ikut terapi alternatif tertentu gak perlu lagi makan levotiroksin? No.....aku termasuk orang yang gak percaya dengan pengobatan herbal atau alternatif, untuk pengobatan aku lebih memilih secara medis. Sudah banyak bukti bahwa orang yang menolak pengobatan medis dan memilih herbal atau terapi alternatif dan menghentikan pengobatan secara medis ternyata bukan makin baik dan sembuh namun tingkat/stadium kanker nya makin parah dan ketika memilih kembali ke pengobatan medis ternyata sudah terlambat.
Hal lain yang aku jaga adalah istirahat cukup, jangan terlalu capek beraktivitas, jangan tidur kemalaman, karena tubuh punya hak untuk istirahat.
Tapi semuanya kembali pada pribadi masing-masing, semua punya pilihan masing-masing. Aku yakin yang Maha Menyembuhkan itu hanya Allah semata dan aku memilih menjalankan ikhtiar untuk kesembuhan secara medis diiringi doa yang gak putus agar ikhtiarku diredhoi oleh Allah swt.
Mudah-mudahan jalan yang aku pilih ini bisa membuatku tetap sehat dan mudah-mudahan pemeriksaanku tahun depan dan tahun seterusnya hasilnya selalu baik seperti yang diharapkan.....aamiin ya robbal alamin....